
Perempuan Adat Nusantara Membangun Kedaulatan Pangan di Tengah Krisis
Krisis iklim dan pandemi membuktikan bahwa pengetahuan tradisional perempuan adat dalam mengelola wilayah adat dan benih lokal adalah kunci dari ketahanan pangan nasional.
Di tengah pusaran krisis iklim global dan ancaman resesi ekonomi yang menghantui pasca-pandemi, peran perempuan adat sebagai penjaga sistem penyediaan pangan mandiri semakin tidak terbantahkan. Realitas di lapangan membuktikan bahwa lahan sawah, ladang, dan sistem kebun pekarangan yang dikelola oleh tangan-tangan perempuan adat merupakan benteng terakhir ketahanan pangan nasional kita.
Benih Lokal sebagai Simbol Kedaulatan
Bagi komunitas masyarakat adat, kedaulatan tidak hanya berarti kebebasan menentukan nasib secara politis, melainkan kebebasan untuk menentukan apa yang akan mereka tanam, bagaimana merawatnya, dan mendistribusikannya secara mandiri. Pengetahuan pelestarian benih (Seed Keeping) yang diwariskan turun-temurun memastikan padi lokal tumbuh tahan banting terhadap anomali cuaca.
"Tanpa kedaulatan benih, petani hanya akan menjadi buruh di tanah pusakanya sendiri. Perempuan menjaga lumbung berarti menjaga keberlanjutan generasi."
Sayangnya, sistem pertanian komersial yang eksploitatif kerap kali meminggirkan peran krusial ini. Ekspansi monokultur tidak hanya merusak kesuburan tanah, tapi perlahan-lahan mencabut kaum perempuan dari wilayah kelola mereka. Oleh karena itu, PEREMPUAN AMAN secara konsisten mendesak pemerintah untuk mengakui dan melindungi hak paten komunal atas benih-benih tradisional yang selama ini dijaga oleh kaum perempuan.